JAKARTA, NOVOX.ID - Perasaan mudah stres, suasana hati yang buruk, hingga rasa gelisah yang muncul tanpa sebab ternyata tidak selalu dipicu oleh tekanan pekerjaan atau masalah pribadi.
Apa yang ada di piring makan sehari-hari juga dapat berperan besar dalam memengaruhi kondisi mental seseorang. Pola makan tertentu bahkan diketahui dapat memicu lonjakan kadar kortisol, hormon yang berkaitan erat dengan stres, atau justru membantu menenangkannya.
Disadur dari UAB News, situs resmi University of Alabama at Birmingham, kortisol merupakan hormon steroid yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan berfungsi mengatur respons tubuh terhadap stres.
Dalam kadar normal, lonjakan kortisol sebenarnya dibutuhkan tubuh. Namun, jika hormon ini terus-menerus berada pada level tinggi, risiko gangguan kesehatan jangka panjang pun meningkat.
Asisten profesor di Departemen Ilmu Nutrisi University of Alabama at Birmingham, Christine Ferguson, Ph.D., RDN, menjelaskan bahwa pola makan memiliki pengaruh langsung terhadap kadar kortisol melalui jalur peradangan.
“Pola makan memengaruhi banyak hal, termasuk naiknya kortisol, melalui jalur peradangan,” ujar Ferguson.
Ia menambahkan, peradangan dan kortisol saling berkaitan. “Peningkatan kortisol dapat memicu peradangan, dan peradangan juga dapat meningkatkan kortisol. Pola makan dapat memengaruhi keduanya,” katanya.
Ferguson menyebut, makanan antiinflamasi layak dipertimbangkan untuk membantu mengelola stres. Jenis makanan ini umumnya kaya antioksidan yang banyak ditemukan dalam buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, serta biji-bijian utuh. Ikan juga kerap dikategorikan sebagai makanan antiinflamasi karena kandungan asam lemak omega-3.
Sementara itu, protein hewani seperti ayam dan daging sapi tetap bermanfaat, namun perlu memilih bagian yang rendah lemak jenuh, seperti dada ayam. Ayam juga mengandung selenium yang memiliki sifat antioksidan.
Namun, pola makan bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kortisol. Stres itu sendiri dapat mengubah perilaku makan seseorang. Menurut Ferguson, banyak orang cenderung mencari comfort food saat stres karena makanan tersebut dapat meningkatkan dopamin dan serotonin.
“Orang sering beralih ke comfort food karena dapat membuat merasa lebih baik dalam jangka pendek,” ujarnya.
Masalahnya, makanan tinggi gula tambahan dan lemak jenuh justru berpotensi memperburuk stres jika dikonsumsi terus-menerus. Meski sesekali memanjakan diri tidak langsung berdampak besar, kebiasaan tersebut dapat memicu masalah jangka panjang. “Sesekali tidak berbahaya, tetapi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten memiliki pengaruh yang jauh lebih besar,” kata Ferguson.
Ferguson menambahkan, dampak perubahan pola makan terhadap kortisol bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang merasakan perubahan dalam hitungan minggu, bahkan ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Karena itu, pola makan sebaiknya menjadi bagian dari strategi menyeluruh, termasuk mindful eating, untuk mengelola stres secara lebih efektif.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!