JAKARTA, NOVOX.ID - Pola makan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, keberlanjutan, dan keseimbangan hidup. Diet kini tidak lagi semata-mata berfokus pada penurunan berat badan, melainkan pada upaya menjaga fungsi tubuh dalam jangka panjang.
Memasuki beberapa tahun terakhir, banyak orang semakin selektif dalam memilih makanan. Kandungan gizi, dampak terhadap kesehatan fisik dan mental, hingga proses pengolahan menjadi pertimbangan utama. Perubahan ini dipengaruhi oleh riset ilmiah, gaya hidup modern, serta pengalaman pribadi menghadapi masalah kesehatan.
Baca juga: Berikut 8 Tips Untuk Kamu Yang Mudah Lelah dan Ngantuk
Pada tahun 2026, tren diet diprediksi bergerak ke arah yang lebih realistis dan ramah tubuh. Pola makan berbasis kesadaran, kualitas nutrisi, dan keberlanjutan akan lebih diutamakan dibanding diet ekstrem yang sulit dipertahankan.
NOVOX.ID mengutip dari BBC Good Food, berikut 7 tren diet 2026 yang diperkirakan semakin populer.
1. Makanan Tinggi Serat
Kesehatan pencernaan tetap menjadi fokus utama di 2026, namun perhatian bergeser dari protein ke serat. Serat berperan penting dalam menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga kanker tertentu.
Selain itu, serat berfungsi sebagai prebiotik yang membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus. Meski kebutuhan serat harian sekitar 30 gram, sebagian besar orang masih belum mencukupinya.
Di tahun 2026, tren diet akan mendorong peningkatan asupan serat secara bertahap melalui biji chia, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta sayuran hijau.
2. Minuman Non - Alkohol Makin Populer
Tahun 2026 diprediksi menjadi titik balik gaya hidup tanpa alkohol. Minuman non-alkohol dan rendah alkohol akan semakin diterima sebagai pilihan sehat, bukan sekadar pembatas sosial.
Industri minuman pun berinovasi dengan menghadirkan bir, wine, dan minuman botani tanpa alkohol yang lebih variatif. Selain manfaat fisik seperti tidur lebih nyenyak dan tekanan darah stabil, gaya hidup ini juga berdampak positif pada kesehatan mental.
Generasi muda diperkirakan menjadi penggerak utama tren ini.
3. Konsumsi Sayuran Hijau untuk Kesehatan Prostat
Meningkatnya kasus kanker prostat membuat pola makan pencegahan semakin diperhatikan. Sayuran hijau seperti brokoli, kale, kubis, dan kembang kol diprediksi makin sering direkomendasikan.
Kandungan sulforaphane dan indole-3-carbinol diyakini membantu melindungi sel tubuh serta memperlambat pertumbuhan kanker pada tahap awal. Metode pengolahan ringan seperti mengukus atau menumis singkat akan menjadi pilihan utama agar nutrisi tetap terjaga.
4. Mendengarkan Tubuh Bukan Sekadar Aplikasi
Tren diet 2026 juga menandai pergeseran dari ketergantungan pada aplikasi pelacak kalori ke kesadaran sinyal alami tubuh.
Banyak orang mulai menyadari bahwa perhitungan kalori sering kali tidak akurat dan memicu stres. Pendekatan makan dengan penuh kesadaran (mindful eating) dinilai mampu membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan serta mengurangi gangguan pola makan.
Baca juga: Hati-Hati! Ini Tandanya Jika Tubuh Kamu Kekurangan Protein
5. Konsumsi Kacang-Kacangan Meningkat
Kacang-kacangan diprediksi menjadi bahan makanan favorit karena tinggi serat, berbasis nabati, ramah lingkungan, dan relatif terjangkau.
Penelitian menunjukkan konsumsi kacang-kacangan secara rutin berkaitan dengan penurunan risiko kematian dini. Edukasi mengenai cara konsumsi yang tepat, seperti membilas kacang kalengan untuk mengurangi gas, juga akan semakin gencar.
6. Makanan Padat Gizi Bagi Pengguna Obat Diet
Penggunaan obat penurun berat badan diperkirakan terus meningkat di 2026. Namun, tren diet akan menekankan pentingnya asupan gizi seimbang agar tubuh tetap sehat meski nafsu makan menurun.
Protein tanpa lemak, biji-bijian utuh, sayuran hijau, dan produk susu akan menjadi prioritas. Fokus diet tidak lagi pada jumlah makanan, melainkan kualitas nutrisi yang dikonsumsi.
7. Pola Nabati yang Lebih Alami
Kesadaran akan bahaya makanan ultra-proses mendorong tren diet nabati yang lebih alami. Konsumen mulai beralih dari produk nabati olahan tinggi garam dan lemak ke sumber protein sederhana seperti lentil, tahu, dan kacang-kacangan.
Di 2026, masyarakat diperkirakan semakin teliti membaca label nutrisi, dengan fokus pada kadar gula, lemak jenuh, dan garam, bukan sekadar jumlah bahan.
Baca juga: Terasa Sakit di Telapak Kaki? Kenali 6 Gejala Penyakit yang Perlu Diwaspadai
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!