JAKARTA, NOVOX.ID - Belakangan ini jagat media sosial
diramaikan dengan tren di mana beberapa orang membagikan cara “alami” untuk
meredakan gejala flu, salah satunya dengan mencampur air putih dengan minyak
kayu putih lalu dikonsumsi secara langsung. Tren ini makin populer di tengah
merebaknya varian influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai super
flu. Namun, pakar kesehatan dan dokter tradisional memberi peringatan keras
tentang risiko kesehatan yang bisa ditimbulkan dari praktik semacam ini.
Menurut laporan dr. Inggrid Tania, Ketua Umum Perkumpulan Dokter
Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), minyak kayu putih
sejatinya aman digunakan untuk dihirup, bukan diminum. Praktik yang wajar dan
lebih aman adalah meneteskan minyak kayu putih ke dalam air panas, kemudian menghirup
uapnya untuk membantu memberikan sensasi lega bagi saluran pernapasan yang
tersumbat saat flu. Namun, minum minyak kayu putih atau larutannya secara
langsung memiliki risiko yang jauh lebih tinggi.
Dokter Inggrid menjelaskan bahwa minyak kayu putih yang dijual bebas di pasaran sering kali tidak mudah dipastikan kemurniannya. Ada produk yang dicampur dengan bahan lain seperti kerosin atau minyak sintetis yang bisa menambah risiko efek samping serius jika dikonsumsi. Minum minyak kayu putih bisa memicu gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah, dan diare efek samping yang pernah dilaporkan oleh pakar ketika melihat tren ini di kalangan masyarakat.
Selain gejala ringan, efek samping konsumsi minyak kayu
putih yang tidak teruji dapat lebih parah, terutama jika dikonsumsi dalam
jumlah besar atau berulang kali. Epidemiolog dan literatur medis asing bahkan
menunjukkan bahwa bahan aktif dalam minyak kayu putih seperti eucalyptol adalah
zat beracun jika tertelan, dan mengonsumsi bahkan dalam dosis kecil dapat
menyebabkan masalah kesehatan serius seperti gangguan sistem saraf, kesulitan
bernafas, hingga risiko keracunan.
Pakar kesehatan umumnya sepakat bahwa minyak kayu putih memang memiliki sifat antiseptik dan sifat rematik bila digunakan secara topikal atau dihirup secara aromaterapi. Namun, metode tersebut tidak sama dengan mencampurkan minyak kayu putih ke dalam minuman untuk diminum. Penggunaan minyak esensial yang tidak sesuai dengan anjuran medis bisa menimbulkan komplikasi seperti iritasi lambung, gangguan sistem saraf, hingga kerusakan organ bila dilakukan dalam jangka panjang.
Dalam konteks super flu yang tengah dibicarakan banyak orang, dokter menyarankan agar masyarakat lebih menekankan pada strategi pencegahan yang sudah terbukti, seperti vaksinasi, menjaga kebersihan tangan, dan pola hidup sehat. Meminum air putih biasa, istirahat cukup, dan pengobatan sesuai resep dokter tetap menjadi pilihan terbaik untuk membantu tubuh pulih dari gejala flu.
Dokter Inggrid juga menambahkan bahwa jika seseorang sudah terlanjur mencoba praktik ini dan mengalami gejala tidak nyaman, sebaiknya segera hentikan konsumsi minyak kayu putih dan konsultasikan ke tenaga medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Berhati-hatilah terhadap informasi kesehatan yang viral di media sosial tanpa disertai rekomendasi dari ahli kesehatan profesional.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!