Liburan Usai, Stres Dimulai? Psikolog Ungkap Alasan Orang Tak Siap Kembali Bekerja

Liburan Usai, Stres Dimulai? Psikolog Ungkap Alasan Orang Tak Siap Kembali Bekerja

Ilustrasi depresi/stres (Foto: website/unair.ac.id)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Liburan panjang seperti akhir tahun sering dianggap sebagai momen paling menyenangkan untuk mengisi ulang energi fisik dan mental. Namun, bagi banyak orang, rasa bahagia tersebut justru berubah menjadi kecemasan saat harus kembali menjalani rutinitas kerja.

Alih-alih merasa segar, sebagian pekerja mengaku diliputi perasaan berat, gugup, bahkan stres ketika membayangkan tumpukan tugas yang menanti setelah cuti berakhir.

Psikolog dan terapis Audrey Tang menjelaskan bahwa kecemasan setelah liburan merupakan reaksi yang wajar. Menurutnya, otak manusia membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri dengan ritme kerja yang penuh tuntutan setelah jeda cukup lama.

Tidak adanya fase transisi yang jelas membuat banyak orang merasa harus langsung kembali produktif seolah tidak pernah beristirahat. Kondisi ini memicu tekanan psikologis yang sering kali tidak disadari.

Selama liburan, seseorang biasanya menjalani rutinitas yang lebih santai dan menyenangkan, seperti bangun lebih siang, menikmati sarapan tanpa terburu-buru, atau melakukan aktivitas fisik ringan di luar ruangan.

Ketika semua itu tiba-tiba berhenti, tubuh dan pikiran dipaksa kembali ke pola lama yang kaku. Inilah yang membuat perasaan cemas dan tidak siap kerap muncul di hari-hari pertama bekerja.

Tang menyarankan agar kebiasaan positif selama liburan tidak langsung ditinggalkan sepenuhnya. Rutinitas kecil yang realistis, seperti berjalan kaki singkat, menikmati kopi dengan tenang sebelum bekerja, atau meluangkan waktu untuk olahraga ringan, bisa membantu menjaga suasana hati tetap stabil.

Kebiasaan sederhana namun konsisten dinilai mampu menekan rasa cemas sekaligus membantu proses adaptasi.

Selain itu, tekanan untuk menyelesaikan semua pekerjaan sekaligus juga menjadi pemicu stres. Tumpukan email, pesan dari rekan kerja, dan permintaan mendadak sering membuat seseorang merasa kewalahan.

Tang mengingatkan pentingnya menyadari batas tanggung jawab diri sendiri dan tidak ragu memberi ruang bagi orang lain untuk menjalankan perannya. Sikap ini bukan hanya mengurangi beban emosional, tetapi juga mendorong lingkungan kerja yang lebih sehat.

Kecemasan di hari pertama kerja juga sering dipicu oleh pagi yang terburu-buru. Persiapan sederhana sejak malam sebelumnya, seperti menyiapkan pakaian atau perlengkapan kerja, dapat membantu menciptakan awal hari yang lebih tenang.

Menghindari kebiasaan mengecek email kantor sebelum jam kerja pun dianjurkan agar otak memiliki waktu beradaptasi secara bertahap.

Liburan sendiri sejatinya bukan kemewahan, melainkan kebutuhan penting bagi kesehatan mental. Perubahan suasana, paparan sinar matahari, serta pengalaman baru dapat merangsang hormon kebahagiaan dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Dengan pendekatan yang lebih sadar dan penuh batasan, kembali bekerja setelah liburan bisa menjadi awal untuk membangun kebiasaan yang lebih sehat, bukan sumber stres baru.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!