JAKARTA, NOVOX.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi
Sadewa kembali memberikan peringatan keras kepada Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai (DJBC) dalam upaya memperbaiki kinerja institusi strategis yang menjadi
garda terdepan dalam pengawasan perdagangan dan penerimaan negara.
Dalam arahannya, Purbaya menekankan bahwa Bea Cukai tidak
boleh “main-main” dalam menjalankan tugasnya, karena kegagalan dalam mengelola
fungsi kepabeanan dan cukai dapat berujung pada kerugian negara yang
signifikan, termasuk dampak serius terhadap kemampuan pemerintah untuk membayar
gaji pegawai negeri.
Peringatan Purbaya ini muncul di tengah serangkaian langkah
tegas yang ia ambil terhadap DJBC. Pemerintah tengah melakukan perombakan
pejabat di Bea Cukai dengan tujuan meningkatkan efektivitas pengawasan serta
memperbaiki penerimaan negara dari bea masuk, cukai, dan pungutan lain yang
berkaitan.
Langkah ini juga ditujukan untuk memberantas praktik penyelundupan, under-invoicing (pencatatan nilai barang impor lebih rendah dari harga sebenarnya), serta perdagangan ilegal yang selama ini merugikan penerimaan negara.
Purbaya menilai bahwa DJBC harus menjadi institusi yang
benar-benar profesional dan serius dalam menjalankan tugasnya, terutama
mengingat peran strategisnya dalam menjaga pertumbuhan ekonomi domestik.
Menurut Purbaya, jika pasar dalam negeri dibanjiri oleh
barang ilegal karena pengawasan yang lemah, maka penerimaan cukai dan pajak
akan turun dan penerimaan yang turun tersebut akan berdampak langsung pada
kemampuan pemerintah untuk membiayai program prioritas serta menutup belanja
rutin seperti gaji pegawai negeri.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Menkeu juga memberi sinyal keras terhadap pegawai Bea Cukai yang dinilai tidak menjalankan tugas dengan maksimal.
Bahkan dalam rapat kerja dengan DPR RI, Purbaya pernah
mengungkapkan bahwa bila dalam satu tahun DJBC tidak bisa memperbaiki kinerja,
pemerintah bisa mengambil langkah ekstrem seperti merumahkan pegawai tanpa gaji
sampai perubahan kinerja betul-betul terjadi. Ini menunjukkan betapa seriusnya
ancaman terhadap kinerja internal lembaga jika tidak sesuai standar.
Selain soal tekanan internal, pemerintah juga tengah meningkatkan penggunaan teknologi serta sistem pengawasan modern, termasuk sistem IT dan AI untuk memperkuat pengawasan peti kemas, kontainer, dan jalur masuk barang impor, sehingga potensi praktik curang seperti under-invoicing bisa ditekan.
Langkah ini merupakan bagian dari reformasi yang lebih luas di sektor pajak dan bea cukai guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas operasional.
Pernyataan keras Purbaya ini disambut beragam oleh publik
dan kalangan pemerhati kebijakan publik. Sebagian melihatnya sebagai bentuk
tegas pemerintah untuk memberantas praktik ilegal yang merugikan negara,
sedangkan pihak lain menekankan pentingnya pembinaan serta pelatihan pegawai
untuk meningkatkan kualitas kinerja secara berkelanjutan.
Terlepas dari itu, pesan Purbaya jelas: Bea Cukai harus
bekerja lebih serius dan terukur karena jika tidak, dampaknya tidak hanya pada
penerimaan negara, tetapi juga pada kemampuan pemerintah memenuhi kewajiban
dasar seperti pembayaran gaji pegawai.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!