JAKARTA,NOVOX.ID - PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memperkirakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan cenderung terbatas atau konsolidasi pada perdagangan pekan depan, 19-23 Januari 2026. IHSG diproyeksikan bergerak di area support 9.000 dan resistance 9.200, seiring fokus pelaku pasar terhadap sejumlah agenda ekonomi penting global maupun domestik.
"Fokus pasar akan beralih pada serangkaian rilis data dan keputusan kebijakan global dan domestik," ujar Equity Analyst IPOT Imam Gunadi sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Minggu 18 Januari 2026.
Trump Naikkan Tarif Dagang 10% ke Denmark dan Sejumlah Negara Eropa, Pasar Global Waspada
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Imam menilai BI diperkirakan tetap mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen, dengan prioritas utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global.
Sementara dari Amerika Serikat, pasar akan mencermati rilis data US Core PCE Price Index yang diproyeksikan berada di level 2,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Data tersebut menjadi indikator inflasi utama yang menjadi acuan kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve.
Dari kawasan Asia, khususnya China, pelaku pasar akan menanti rilis pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 yang diperkirakan tumbuh 4,4 persen (yoy). Data ini dinilai krusial untuk mengukur daya tahan ekonomi China di tengah kebijakan stimulus moneter yang masih berlanjut.
"Data penjualan ritel dan tingkat pengangguran Desember (2025) juga perlu dicermati untuk membaca kekuatan konsumsi domestik dan kondisi pasar tenaga kerja," ujar Imam.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada keputusan suku bunga Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun dan lima tahun. Meskipun People’s Bank of China (PBOC) memberikan sinyal adanya ruang pelonggaran lanjutan, konsensus pasar masih memperkirakan suku bunga acuan China akan dipertahankan.
Pada penutupan perdagangan Kamis (14/01), IHSG tercatat menguat 1,55 persen ke level 9.075. Dalam periode sepekan, investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp3,2 triliun.
"Arus dana asing yang kembali masuk ini mencerminkan respons positif terhadap stabilitas makro domestik di tengah volatilitas global," ujar Imam.
Sepanjang pekan lalu, menurut Imam pasar global bergerak relatif positif dengan keseimbangan antara data ekonomi AS yang stabil dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
"Namun, sentimen pasar global terganggu oleh eskalasi risiko perdagangan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap barang-barang dari sejumlah negara Eropa, dengan ancaman kenaikan hingga 25 persen mulai Juni dan terkait sengketa Greenland," ujar Imam.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut memicu reaksi keras dari negara-negara Uni Eropa, termasuk potensi pembatalan kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang sebelumnya dicapai pada Juli lalu.
"Hingga akhir pekan, dasar hukum dan mekanisme penerapan tarif tersebut masih belum jelas, menjaga ketidakpastian di pasar global," ujar Imam.
Di tengah tekanan global tersebut, kinerja pasar domestik Indonesia justru menunjukkan sinyal positif. Penjualan ritel nasional pada November 2025 tercatat tumbuh 6,3 persen (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya dan menjadi pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024.
"Pertumbuhan terjadi pada berbagai kategori, termasuk makanan dan minuman, suku cadang otomotif, serta barang rekreasi. Secara bulanan, penjualan ritel meningkat 1,5 persen, menjadi laju tertinggi dalam delapan bulan terakhir," ujar Imam.
Selain itu, realisasi Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia pada kuartal IV-2025 tercatat tumbuh 4,3 persen (yoy) menjadi Rp256,3 triliun, berbalik dari kontraksi yang terjadi pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan, total FDI sepanjang 2025 relatif stabil di level Rp900,9 triliun, dengan sektor logam dasar dan pertambangan sebagai tujuan utama investasi.
Dari China, kinerja perdagangan menunjukkan surplus sebesar 1,189 triliun dolar AS sepanjang 2025, didukung oleh pertumbuhan ekspor 5,5 persen (yoy) dan impor yang relatif stagnan. Pergeseran tujuan ekspor ke Uni Eropa dan Asia Tenggara menjadi faktor utama, sementara surplus perdagangan China dengan Amerika Serikat justru mengalami penurunan.
Di sisi domestik China, pertumbuhan kredit masih tertahan dengan pertumbuhan outstanding yuan loan sebesar 6,4 persen (yoy), menjadi level terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini terjadi meskipun suplai uang beredar (M2) meningkat 8,5 persen (yoy) ke level tertinggi.
Merespons situasi tersebut, People’s Bank of China (PBOC) menegaskan bahwa masih terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga dan giro wajib minimum (GWM) guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!