JAKARTA, NOVOX.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar
Amerika Serikat (AS) pada Senin, 5 Januari 2026, harus menutup awal pekan
dengan tren melemah tipis, seiring dengan penguatan dolar di pasar global serta
sentimen makroekonomi yang masih kuat. Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah
ke level sekitar Rp16.730–Rp16.746 per dolar AS di pasar spot.
Berdasarkan data Bloomberg yang dipantau di pasar spot
exchange pada pukul 09.14–09.39 WIB, rupiah bergerak di kisaran tersebut,
melemah beberapa poin dibandingkan dengan posisi penutupan akhir pekan lalu.
Pelemahan ini mengikuti penguatan indeks dolar AS yang masih kokoh terhadap
beberapa mata uang utama.
Dikutip dari Reuters, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS)
mengawali pekan perdagangan penuh pertama di awal tahun 2026 dengan penguatan.
“Pasar valuta asing saat ini bukan mencerminkan risiko dari
Venezuela, melainkan lebih pada apa yang akan disampaikan data ekonomi AS
terhadap arah kebijakan The Fed,” ujar analis pasar senior Capital.com, Kyle
Rodda, seperti dikutip Reuters.
Analis pasar melihat bahwa sentimen global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah hari ini. Penguatan dolar AS terutama dipicu oleh ekspektasi pelaku pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) di awal 2026. Kekhawatiran bahwa data makro AS yang kuat dapat menunda penurunan suku bunga juga mendorong permintaan terhadap dolar dan membuat rupiah tertekan.
Selain itu, sentimen geopolitik turut memberi tekanan pada
pasar valuta asing. Berita tentang operasi militer dan penangkapan Presiden
Venezuela oleh pasukan AS menjadi salah satu sorotan pelaku pasar global, meski
sebagian analis menilai dampaknya terhadap rupiah bersifat sementara. Beragam
sentimen seperti ini membuat aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang
mengalami tekanan jual yang moderat di awal pekan.
Penguatan dolar terhadap mata uang global seperti euro dan
yen Jepang juga tercatat, dengan dolar mencapai posisi tertinggi beberapa pekan
terakhir. Kondisi ini turut memperkuat posisi dolar terhadap rupiah di awal
perdagangan hari ini.
Meski demikian, beberapa prediksi analis masih melihat
peluang rupiah menguat kembali dalam jangka pendek atau berfluktuasi,
tergantung pada data ekonomi domestik yang akan dirilis serta sentimen dari
dalam negeri. Faktor-faktor seperti neraca perdagangan Indonesia, inflasi,
serta aliran modal asing akan tetap menjadi pemantauan utama pelaku pasar.
Sentimen global terhadap kebijakan moneter AS dan stabilitas ekonomi global akan terus menjadi penentu utama arah nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan. Di tengah kondisi ini, pelaku pasar terlihat berhati-hati dan terus menunggu sinyal data ekonomi lainnya yang dapat memberikan petunjuk terhadap pergerakan mata uang di awal tahun.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!