JAKARTA, NOVOX.ID - Penerimaan pajak nasional
sepanjang tahun 2025 gagal mencapai target yang ditetapkan dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), mendorong Menteri Keuangan Purbaya Yudhi
Sadewa memberikan sinyal keras untuk melakukan pembenahan besar-besaran hingga
merombak total kinerja Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Pernyataan tersebut
disampaikan dalam berbagai pertemuan internal dan publik untuk mendorong
reformasi sistem perpajakan yang selama ini menjadi tulang punggung penerimaan
negara.
Menurut data resmi Kementerian Keuangan, realisasi
penerimaan pajak sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp1.917,6 triliun, atau hanya 87,6
persen dari target pajak sebesar Rp2.189,3 triliun dalam APBN 2025. Artinya,
terdapat selisih atau shortfall sekitar Rp271,7 triliun yang tidak masuk
ke kas negara. Kondisi ini menjadi salah satu tekanan utama terhadap kinerja
fiskal, karena pajak menjadi sumber utama pendapatan negara untuk membiayai
berbagai program pembangunan dan pelayanan publik.
Purbaya mengakui bahwa penerimaan pajak memang tidak mencapai target yang diharapkan. Faktor perlambatan ekonomi sepanjang sebagian besar tahun lalu turut berkontribusi terhadap melesetnya realisasi pajak. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 sempat melambat pada beberapa triwulan, sehingga daya beli dan aktivitas ekonomi yang menjadi basis pengenaan pajak juga terpengaruh. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi baru menunjukkan percepatan di akhir tahun, tetapi belum cukup untuk mendongkrak penerimaan pajak sehingga mencapai target keseluruhan.
Atas kondisi tersebut, Purbaya menyatakan DJP akan menjadi
fokus utama reformasi struktur dan operasional. Ancaman perombakan total
mencakup evaluasi sistem kerja, prosedur pemungutan, hingga perbaikan teknologi
informasi dan data perpajakan. Tujuan utama langkah ini adalah meningkatkan
kepatuhan wajib pajak, memperbaiki basis data perpajakan, serta mempersempit
celah penghindaran pajak (tax gap) yang selama ini menjadi masalah.
Reformasi juga diharapkan dapat mempermudah proses administrasi pajak bagi
wajib pajak sehingga meningkatkan partisipasi dan kepatuhan pelaporan pajak
secara keseluruhan.
Di sisi lain, DJP masih mencatat capaian positif di berbagai
kantor pelayanan pajak (KPP) yang mampu mencapai target atau bahkan
melampaui target mereka. Data internal menunjukkan bahwa sejumlah KPP seperti di wilayah Jakarta dan kota besar
lainnya tetap menunjukkan pertumbuhan penerimaan yang baik dalam cakupan
wilayah masing-masing. Namun, pencapaian di tingkat makro belum cukup untuk
menutup celah penerimaan nasional yang tersisa.
Purbaya pun meminta kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat wajib pajak, untuk bersama-sama memperkuat sistem perpajakan Indonesia. Dia menekankan bahwa reformasi DJP bukan semata untuk mengejar target angka, tetapi juga untuk menciptakan sistem perpajakan yang lebih adil, efisien, dan berbasis data yang kuat. Hal ini dinilai penting agar pajak benar-benar mencerminkan kontribusi semua sektor dalam pembangunan nasional.
Langkah perombakan ini juga dipandang penting dalam konteks
proyeksi penerimaan pajak tahun berikutnya, termasuk upaya mengoptimalkan
sumber pendapatan baru seperti memperluas basis pajak digital, menindak
penunggak pajak besar, serta mengatasi tantangan shadow economy yang
masih belum sepenuhnya tertangkap dalam sistem perpajakan.
Dengan demikian, kegagalan mencapai target penerimaan pajak
2025 bukan hanya sekedar angka statistik, tetapi menjadi momentum perubahan
untuk memperkuat struktur perpajakan Indonesia, sehingga kemampuan fiskal
negara dapat lebih tangguh menghadapi gejolak ekonomi global di masa mendatang.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!